PATI, Cybernusantara.co – Forum Komunikasi Pelanggan (FKP) Paguyuban Banyu Bening se-Jawa Tengah menggelar workshop regional di Kabupaten Pati, Jumat-Sabtu (25-26 September 2026). Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dari berbagai kabupaten/kota untuk bertukar pengalaman sekaligus menyampaikan aspirasi terkait pelayanan air bersih.
Ketua FKP PDAM Kota Semarang sekaligus Ketua Paguyuban Banyu Bening Jawa Tengah, Margono, mengatakan forum tersebut dibentuk sebagai penyeimbang dalam pelayanan PDAM kepada masyarakat sebagai konsumen.
“Tujuannya kita sebagai penyeimbang pelayanan PDAM kepada konsumen. Sehingga hak konsumen sebagai pengguna air PDAM untuk mendapatkan kualitas air dan kelancaran air,” ujar Margono.
Menurutnya, keberadaan FKP diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi antara pelanggan dengan pengelola layanan air minum. Melalui forum tersebut, berbagai persoalan yang dirasakan pelanggan dapat dibahas dan dicarikan solusi bersama.
Margono menjelaskan, Paguyuban Banyu Bening secara rutin menggelar sarasehan setiap enam bulan sekali. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk berbagi pengalaman sekaligus mendorong pemberdayaan pengguna atau konsumen layanan PDAM.
“FKP ini wadah bagi pelanggan yang difasilitasi masing-masing kabupaten. Di sini hanya dua hari, pertemuan yang ke-17. Nanti enam bulan berikutnya kita adakan kegiatan di Rembang sekitar bulan Maret 2027,” jelasnya.
Dalam workshop kali ini, sejumlah perwakilan FKP dari berbagai daerah turut hadir, di antaranya Pati, Kudus, dan Kota Semarang. Sementara beberapa daerah lainnya tidak dapat mengikuti kegiatan karena terkendala kesibukan.
“Saya lihat ada dari Pati, Kudus, Semarang, dan ada beberapa yang tidak hadir karena kesibukan. Undangan ini memang disetting untuk FKP dan PDAM itu sendiri untuk nanti ditindaklanjuti,” ungkap Margono.
Selain membahas komunikasi antara pelanggan dan PDAM, forum tersebut juga menyoroti persoalan teknis yang dapat memengaruhi kualitas serta kelancaran distribusi air kepada masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan tingkat kekeruhan air pada sumber atau jaringan tertentu.
Margono mengatakan, pada kondisi tertentu terdapat air yang memiliki tingkat kekeruhan cukup tinggi sehingga tidak dapat langsung diolah secara optimal. Menurutnya, diperlukan langkah antisipasi agar kondisi tersebut tidak mengganggu pelayanan kepada pelanggan.
“Pada pipa-pipa tertentu tidak bisa diolah karena tingkat kekeruhannya tinggi. Maka tidak ada salahnya punya kolam retensi, sehingga air tidak mengendap. Endapan lumpur tidak mengendap sehingga pelayanan konsumen tidak terganggu,” katanya.
Ia berharap hasil pembahasan dalam workshop regional tersebut tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi dan ditindaklanjuti oleh FKP maupun PDAM di masing-masing daerah.
Dengan adanya pertemuan rutin tersebut, Paguyuban Banyu Bening berharap komunikasi antara pelanggan dan penyelenggara layanan air minum semakin terbuka, sehingga berbagai persoalan terkait kualitas, kontinuitas, dan pelayanan kepada masyarakat dapat ditangani secara bersama-sama. (ARIF – Mantranews.id)