KUDUS, Cybernusantara.co – Rapat paripurna LKPJ Pemkab Kudus 2025 yang digelar di Gedung DPRD Kudus, Selasa (21/4/2026), mendadak memanas. Hal itu dikarenakan adanya anggota dewan yang melayangkan interupsi keras setelah seluruh pokok pikiran (pokir) mereka dalam pembahasan APBD 2026 dilaporkan hilang atau dicoret.
Interupsi datang dari tiga anggota DPRD Kudus, yakni Sandung Hidayat (Gerindra), Pranoto (PDIP), dan Superiyanto (NasDem). Mereka mempertanyakan keputusan penghapusan pokir yang sebelumnya diajukan sebagai wujud aspirasi masyarakat dari daerah pemilihan masing-masing.
Sandung Hidayat menegaskan, sebagai wakil rakyat, anggota dewan memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan usulan masyarakat. Ia menyayangkan seluruh pokir yang telah diajukan justru dihapus dalam pembahasan APBD 2026.
“Sebagai anggota dewan, kami punya tanggung jawab menyampaikan aspirasi konstituen. Ketika semua usulan itu dicoret, ini menjadi persoalan serius,” tegasnya saat interupsi.
Kekecewaan serupa disampaikan Pranoto. Ia menyoroti kondisi desa yang semakin tertekan akibat pemangkasan dana desa, sehingga banyak usulan pembangunan disampaikan melalui reses anggota dewan.
“Ketika pokir kami dihapus, ini jelas jadi masalah. Apalagi dalam sumpah jabatan, kami berjanji memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Superiyanto berharap ke depan ada komunikasi yang lebih solid antara eksekutif dan legislatif, khususnya dalam pembahasan APBD 2027.
“Bupati punya janji politik, kami di DPRD juga punya janji politik yang harus diperjuangkan,” katanya.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua DPRD Kudus H. Masan menjelaskan bahwa penghapusan pokir dalam APBD 2026 merupakan tindak lanjut arahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pokir dinilai berpotensi memicu praktik koruptif.Meski demikian, Masan memastikan aspirasi masyarakat tetap bisa diakomodasi melalui mekanisme lain. (Cybernusantara.co)