Proyek Pasar Ngawen Molor: Pedagang Kecewa dan Menanggung Pembengkakan Biaya

by Arif Febriyanto

BLORA, Cybernusantara.co – Nasib hampir seribu pedagang Pasar Ngawen kembali digantung. Harapan mereka untuk segera mentas dari keterpurukan usai musibah kebakaran hebat awal 2024 lalu harus kandas, setelah proyek rekonstruksi pasar senilai miliaran rupiah tersebut dipastikan gagal memenuhi target penyelesaian awal pada 14 Juli lalu.

Gara-gara keterlambatan pasokan material dan gejolak harga barang, tenggat pengerjaan terpaksa dipaksa mundur lewat adendum perpanjangan waktu hingga pertengahan Agustus. Bagi para pedagang, molornya proyek ini bukan sekadar urusan penundaan kalender kerja, melainkan pukulan telak yang kian mencekik leher perekonomian mereka.

“Jelas sangat merugikan! Belum jadinya bangunan ini memaksa pedagang terus bertaruh nasib di jalanan dan emperan rumah warga, berpanas-panasan setiap hari,” cetus Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Ngawen, Ahmad Sholeh, dengan nada kecewa.

Ahmad Sholeh membeberkan realita pahit di lapangan. Sejak si jago merah melumat tempat usaha mereka dua tahun silam, sebanyak 984 pedagang terdaftar terpaksa mengungsi secara mandiri. Sebagian besar ‘memakan’ bahu jalan sembari mengurut dada membayar retribusi harian, sementara sisanya harus merogoh kocek dalam-dalam demi menyewa teras hingga kamar rumah warga sekitar.

Skema relokasi serabutan ini memicu efek domino yang fatal. Omzet penjualan merosot tajam akibat lokasi yang terpencil, sementara beban sewa tempat terus memakan modal usaha.

Meski demikian, pihak paguyuban tetap mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Blora dan pemerintah pusat yang telah memprioritaskan alokasi anggaran APBN untuk pemulihan Pasar Ngawen.

“Kami tetap berterima kasih karena Pasar Ngawen diprioritaskan. Namun, harapan kami tentu proyek ini benar-benar rampung sesuai target adendum yang baru,” tegasnya.

Sebelumnya, Bupati Blora Arief Rohman meninjau langsung lokasi pengerjaan proyek strategis besutan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini beberapa waktu lalu. Inspeksi mendadak ini dilakukan guna memastikan pengerjaan fisik yang kini menyentuh angka 82,72 persen dapat diselesaikan sebelum batas akhir adendum.

Orang nomor satu di Blora tersebut mewanti-wanti pihak Kementerian PU dan kontraktor pelaksana agar memanfaatkan sisa waktu secara maksimal. Berdasarkan adendum perjanjian, pengerjaan harus tuntas pada 13 Agustus mendatang agar bisa diresmikan bertepatan dengan momen Kemerdekaan RI.

“Kami ke sini dalam rangka monitoring progres pembangunan Pasar Ngawen. Menurut laporan, sudah 82,72 persen. Kita berharap teman-teman dari PU maupun kontraktor bisa merampungkannya, mengingat waktunya tinggal 13 hari lagi,” ujar Arief di sela-sela peninjauan.

Ia menambahkan, memang sempat ada revisi adendum perjanjian yang semula selesai 13 Juli, menjadi 13 Agustus.

“Kita berharap ini tidak molor lagi biar tidak ada denda dan bisa tepat waktu. Inginnya 17 Agustus nanti salah satunya bisa kita rayakan di sini,” tambahnya.

Di lokasi yang sama, perwakilan Kementerian PU menegaskan bahwa pengerjaan saat ini masih diupayakan sesuai adendum kontrak terbaru. Namun, sanksi tegas siap dibebankan jika pelaksana kembali meleset dari tenggat waktu.

“Sementara ini pengerjaan masih sesuai dengan kontrak adendum. Kalau misal memang tidak selesai di 13 Agustus, baru kita berlakukan pemberian kesempatan dengan pengenaan denda,” tegas perwakilan Kementerian PU.

Menghadapi sisa pengerjaan sekitar 17 persen dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, pihak kontraktor pelaksana mengaku optimistis. Seluruh pasokan material dipastikan sudah lengkap berada di lokasi, dan skema percepatan pengerjaan mulai diterapkan.

“Penambahan pekerja pasti dilakukan. Kita setiap hari pantau terus untuk penambahan pekerjaannya, dan pengerjaannya juga kita lemburkan,” pungkas perwakilan kontraktor. (RED – Cybernusantara.co)

Related Posts