BANDUNG, Cybernusantara.co – Badan Karantina Indonesia (Barantin) menegaskan komitmennya dalam mempercepat ekspor nasional melalui pelayanan karantina yang cepat, transparan, dan akuntabel. Komitmen tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, saat membuka Sarasehan Bersama Eksportir Jawa Barat yang diikuti perwakilan dari 101 perusahaan eksportir di Kantor Karantina Bandung, Selasa (8/7).
Forum ini menjadi ruang dialog antara Barantin dan pelaku usaha untuk memperkuat sinergi dalam meningkatkan daya saing komoditas ekspor Indonesia sekaligus memperluas akses pasar internasional.
“Barantin tidak akan menjadi penghambat. Sebaliknya, kami hadir memberikan pendampingan, asistensi, dan pelayanan maksimal bagi para eksportir agar produk Indonesia semakin mudah diterima di pasar internasional,” ujar Karding.
Karding juga menegaskan bahwa Barantin tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan sumber daya alam hayati, tetapi juga hadir sebagai economic tools yang mendukung percepatan ekspor nasional.
Pilar Penguatan EksporDalam mendukung peningkatan ekspor nasional, Barantin menjalankan empat pilar utama, yakni memperkuat biosecurity nasional, menjaga food security, memperlancar trade facilitation, serta memperluas market access.
Kebijakan ini juga selaras dengan Asta Cita Presiden RI No. 5 dan Program Prioritas No. 15 tentang hilirisasi sumber daya alam dan peningkatan nilai tambah.
“Kami ingin memastikan pelayanan karantina menjadi nilai tambah bagi eksportir. Semakin cepat, semakin mudah, namun tetap memenuhi standar internasional sehingga produk Indonesia semakin dipercaya di pasar global,” katanya.
Selain itu untuk mendukung kelancaran ekspor, Barantin terus mempercepat transformasi digital layanan karantina. Digitalisasi dilakukan mulai dari pemeriksaan di tingkat petani, pengujian laboratorium, hingga penerbitan sertifikat ekspor secara terintegrasi.
Barantin Perkuat Peran sebagai Akselerator Ekspor Jawa Barat dalam dialog bersama para eksportir, Karding juga mendengarkan berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha, mulai dari pemenuhan persyaratan negara tujuan hingga percepatan proses sertifikasi serta peningkatan daya saing produk. Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab dengan pelayanan yang adaptif dan kolaboratif.
“Kalau ada kendala, jangan dipendam. Sampaikan kepada kami. Barantin hadir untuk mencari solusi bersama, bukan menambah persoalan. Tugas kami memastikan komoditas ekspor memenuhi persyaratan negara tujuan sekaligus membantu pelaku usaha agar produknya semakin mudah menembus pasar internasional,” ujar Karding.
Ia menegaskan, Barantin akan terus memperkuat pendampingan kepada eksportir melalui asistensi teknis, penguatan koordinasi dengan instansi terkait, serta percepatan layanan karantina agar proses ekspor berjalan lebih efisien tanpa mengurangi aspek keamanan hayati.
Ekspor Jawa Barat Tunjukkan Kinerja Positif Karding mengatakan, ekspor menjadi salah satu penggerak ekonomi Jawa Barat yang turut mendukung pertumbuhan PDRB sebesar 5,79 persen pada Triwulan I Tahun 2026. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi komoditas Indonesia untuk terus bersaing di pasar internasional.
Berdasarkan data Best Trust, sektor karantina hewan mencatat nilai ekspor Rp69,7 miliar dengan komoditas unggulan susu sapi dan vaksin. Sementara sektor karantina ikan membukukan nilai ekspor Rp1,29 triliun dengan volume 28,6 juta kilogram, didominasi daging rajungan dan cumi-cumi.
Adapun sektor karantina tumbuhan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor Rp7,7 triliun dan volume 304,9 juta ton melalui komoditas seperti kakao bubuk, kelapa bulat, dan kakao pasta.
Menutup kegiatan, Karding menegaskan komitmen Barantin dalam memberikan pelayanan yang profesional, cepat, transparan, dan bebas dari praktik pungutan liar.
“Kami memastikan seluruh proses sertifikasi karantina berjalan cepat, transparan, akuntabel, dan bebas dari segala bentuk pungutan liar. Barantin siap menjadi mitra strategis bagi para eksportir untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global,” pungkasnya. (Amelia Erisanna – Cybernusantara.co)